Am I a crack on your walls?
Do my bones creak when you hold your doors open at two?
Is my skin ruptured
Every time you sink your forehead to my surface
And your tears fall
On me?
July 7, 2017
July 6, 2017
July 5, 2017
I am my own victims and villains
And all the tragic ending
That is yet to come
I am a library of a thousand
Gloomy
Fairy tales
But on the corner
There's this book
Where your voice is painted all over chapter seven
In fifteen lines
Lies a carving of your crooked smile
And the sentences
All written in future tenses
And all the tragic ending
That is yet to come
I am a library of a thousand
Gloomy
Fairy tales
But on the corner
There's this book
Where your voice is painted all over chapter seven
In fifteen lines
Lies a carving of your crooked smile
And the sentences
All written in future tenses
May 21, 2017
Gelas Kaca
Suatu hari nanti aku akan masih saja duduk di atas kursi kayu teras belakang, memakai daster batik yang sudah kusam. Bermain dengan kucing-kucing sambil melihat mobil melintas di jalan tol, atau memaksa si belang duduk diam di pangkuan sambil mencari kutunya. Ibu mungkin sedang sibuk di dapur dan bapak asyik membaca novel di kantor. Atau mereka sedang duduk di depan tv, saling merangkul, mengejek dengan penuh canda. Tenang karena masakan percobaanku sudah tertata rapi di meja. Saling mencuri peluk dan kecup saat aku berada di luar sini. Mendengarkan obrolan mereka yang selalu membuat iri, sambil diam-diam membiarkan kepala ini berlarian entah kemana. Liar merangkai cerita, menerkam nostalgia; atau mereka-reka mengapa retorika yang pernah datang dan pergi tak pernah bisa menyatu dengan bait-bait yang kuucapkan, sementara kau hadir tanpa kata dan sajak itu mendadak utuh--hampir sempurna.
Lalu kau akan datang ke teras belakang rumahku, dengan senyum lebar yang menyipitkan matamu dan melukiskan gurat-gurat pipi yang kuhapal benar setiap lekuknya.
Kau akan datang,
Dengan rencana
Atau secarik tebal bertintakan emas di atasnya.
Manapun yang kau bawa,
Kau akan datang
Dengan senyum dan gurat-gurat pipi
Yang kuhapal benar setiap lekuknya.
Pertanda kau sedang bahagia.
Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.
Lalu kau akan datang ke teras belakang rumahku, dengan senyum lebar yang menyipitkan matamu dan melukiskan gurat-gurat pipi yang kuhapal benar setiap lekuknya.
Kau akan datang,
Dengan rencana
Atau secarik tebal bertintakan emas di atasnya.
Manapun yang kau bawa,
Kau akan datang
Dengan senyum dan gurat-gurat pipi
Yang kuhapal benar setiap lekuknya.
Pertanda kau sedang bahagia.
Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.
April 30, 2017
Merah Hitam
Aku tidak pernah berencana untuk mati di sini.
Di tengah tumpukan bara yang menyelimuti salju, dan makhluk fana yang bertingkah seolah mereka telah terbiasa. Dengan api yang menyala-nyala. Dengan neraka.
Makhluk-makhluk bodoh itu hanya berkicau tentang mentari yang setiap pagi menyapa sang embun dengan hangat, berusaha menjaganya terlelap sebelum hujan turun dan membawanya pulang. Dan mereka menjeritkan pilu mentari saat embun tergelincir dan tenggelam dalam gelap tanah yang menertawakan keduanya.
Padahal, sedari dulu, tanah melindungi embun dari panasnya mentari yang menguapkannya. Lalu mereka melebur dalam satu, meninggalkan dunia yang tidak pernah berusaha mengerti sepenuhnya. Akan segalanya.
Tapi, kau peluk aku di tepi jurang itu. Maka kucumbu angin dalam detik-detik indah dengan debur ombak yang berkejaran mencium punggungku. Aku tertawa, dengan air mengalir dari kedua mataku. Dan ranting yang membelit sekujur tubuhku. Membawaku masuk ke dalam tumpukan abu dan air yang bercampur menjadi candu.
Kau bunuh aku.
Jauh sebelum aku tiba di sini, menikmati kota dalam pendar bulan dan remang lampu di pinggiran jalan. Menghindari lalu lalang dan semua hiruk pikuk penuh kebohongan, dan, rayuan gombal. Hingga aku tiba di sebuah kedai kopi dan merebahkan diri dan tiba-tiba seorang gadis menghampiriku. Rambutnya tergerai bebas, hitam legam menambah kontras pada kulitnya yang pucat. Ia tersenyum padaku. Berkenalan, basa basi, hingga menawarkan diri untuk bersama denganku. Setidaknya malam itu. Aku bergeming, mengalihkan pembicaraan yang berputar di sekelilingnya. Dan di satu saat, aku tertawa. kencang sekali, hingga mataku panas dan aku meninggalkannya termangu - mungkin kecewa telah dicampakkan olehku. Aku berlari menyusuri jalan sepi, menenggak harapan dalam botol ketiga yang kubawa malam itu. Mencari bulan, tuhan, atau siapapun yang dapat mencabut hitam di pelupuk mataku.
Tidak, tidak. Aku tidak patah hati. Apalagi depresi. Aku hanya perlu menemukan jati diri, seperti kata orang-orang di ujung jalan sana yang terus memperhatikanku dengan tatapan iba dan bisik menjijikan yang mulai membuatku berteriak marah sambil mengacungkan botol pecah dalam genggaman tanganku. Mereka menjauh. Ketakutan. Untuk pertama kalinya pada malam ini, aku merasa senang.
Lalu aku mulai melihatmu. Di bangku taman, dengan jaket kesayangan dan ranselmu yang mulai usang. Aku melihat kau dan aku bercengkrama di bawah lampu jalan sambil menunggu taksi yang tak kunjung datang. Aku melihatmu mengecup pipiku lembut di teras, mengira tak ada yang memperhatikan. Aku meilhat kita bergandengan tangan di atas jembatan, menikmati indahnya kota dalam pelukan malam. Aku melihatmu bersandar di bahuku, berceloteh tentang film yang kita tonton tadi siang. Aku melihatmu di atas gedung, di bawah pohon, di samping kedai, di setiap penjuru yang kupandang, di saat aku melihat, saat aku memejam…..
Aku melihatmu dimana-mana.
Dan tiba-tiba aku menabraknya. Seseorang berperawakan tinggi besar yang mulai meraung dan mendorongku. Lalu kita bernyanyi, dengan jemariku yang menelusuri tubuhnya - dan sebaliknya. Kami menari, berlenggok di atas deras hujan,
Dan hal berikutnya yang kutahu, ia mengarahkan pecahan kaca itu pada tubuhku - dan aku tergeletak dalam merah dan hitam yang bergelut dalam diam.
Ia telah berhasil, sayang.
Ia telah berhasil mencabut belati yang kau hujamkan tepat di jantungku.
Aku tidak pernah berencana mati sendiri.
Tapi, kini bebas.
Di tengah tumpukan bara yang menyelimuti salju, dan makhluk fana yang bertingkah seolah mereka telah terbiasa. Dengan api yang menyala-nyala. Dengan neraka.
Makhluk-makhluk bodoh itu hanya berkicau tentang mentari yang setiap pagi menyapa sang embun dengan hangat, berusaha menjaganya terlelap sebelum hujan turun dan membawanya pulang. Dan mereka menjeritkan pilu mentari saat embun tergelincir dan tenggelam dalam gelap tanah yang menertawakan keduanya.
Padahal, sedari dulu, tanah melindungi embun dari panasnya mentari yang menguapkannya. Lalu mereka melebur dalam satu, meninggalkan dunia yang tidak pernah berusaha mengerti sepenuhnya. Akan segalanya.
Tapi, kau peluk aku di tepi jurang itu. Maka kucumbu angin dalam detik-detik indah dengan debur ombak yang berkejaran mencium punggungku. Aku tertawa, dengan air mengalir dari kedua mataku. Dan ranting yang membelit sekujur tubuhku. Membawaku masuk ke dalam tumpukan abu dan air yang bercampur menjadi candu.
Kau bunuh aku.
Jauh sebelum aku tiba di sini, menikmati kota dalam pendar bulan dan remang lampu di pinggiran jalan. Menghindari lalu lalang dan semua hiruk pikuk penuh kebohongan, dan, rayuan gombal. Hingga aku tiba di sebuah kedai kopi dan merebahkan diri dan tiba-tiba seorang gadis menghampiriku. Rambutnya tergerai bebas, hitam legam menambah kontras pada kulitnya yang pucat. Ia tersenyum padaku. Berkenalan, basa basi, hingga menawarkan diri untuk bersama denganku. Setidaknya malam itu. Aku bergeming, mengalihkan pembicaraan yang berputar di sekelilingnya. Dan di satu saat, aku tertawa. kencang sekali, hingga mataku panas dan aku meninggalkannya termangu - mungkin kecewa telah dicampakkan olehku. Aku berlari menyusuri jalan sepi, menenggak harapan dalam botol ketiga yang kubawa malam itu. Mencari bulan, tuhan, atau siapapun yang dapat mencabut hitam di pelupuk mataku.
Tidak, tidak. Aku tidak patah hati. Apalagi depresi. Aku hanya perlu menemukan jati diri, seperti kata orang-orang di ujung jalan sana yang terus memperhatikanku dengan tatapan iba dan bisik menjijikan yang mulai membuatku berteriak marah sambil mengacungkan botol pecah dalam genggaman tanganku. Mereka menjauh. Ketakutan. Untuk pertama kalinya pada malam ini, aku merasa senang.
Lalu aku mulai melihatmu. Di bangku taman, dengan jaket kesayangan dan ranselmu yang mulai usang. Aku melihat kau dan aku bercengkrama di bawah lampu jalan sambil menunggu taksi yang tak kunjung datang. Aku melihatmu mengecup pipiku lembut di teras, mengira tak ada yang memperhatikan. Aku meilhat kita bergandengan tangan di atas jembatan, menikmati indahnya kota dalam pelukan malam. Aku melihatmu bersandar di bahuku, berceloteh tentang film yang kita tonton tadi siang. Aku melihatmu di atas gedung, di bawah pohon, di samping kedai, di setiap penjuru yang kupandang, di saat aku melihat, saat aku memejam…..
Aku melihatmu dimana-mana.
Dan tiba-tiba aku menabraknya. Seseorang berperawakan tinggi besar yang mulai meraung dan mendorongku. Lalu kita bernyanyi, dengan jemariku yang menelusuri tubuhnya - dan sebaliknya. Kami menari, berlenggok di atas deras hujan,
Dan hal berikutnya yang kutahu, ia mengarahkan pecahan kaca itu pada tubuhku - dan aku tergeletak dalam merah dan hitam yang bergelut dalam diam.
Ia telah berhasil, sayang.
Ia telah berhasil mencabut belati yang kau hujamkan tepat di jantungku.
Aku tidak pernah berencana mati sendiri.
Tapi, kini bebas.
Perpustakaan SMA,
4 Mei 2013
March 17, 2017
Flowers
I have spent so many nights wondering if I should listen to the splashing color thrown to the walls of my throbbing heart, paint my mind with your half crooked smile; or would it be better if I dive through the deep ocean, searching for a light in the middle of the twisted tint–fading.
I still can’t find the answer.
I have been looking for a soft whisper in crowded halls, a gentle touch among the raging waves; a genuine tenderness.
I could not hear a thing.
I have kept a stack of feelings behind my bedroom door, locking them away, not knowing how the roof had been long gone and what seemed like a laundry pile is now an overgrown mountain.
You should see how stunning the sunset looks like from up here.
I have walked through the wreckage of our past, picking up every bit of shattered glass and scraped paper and wooden frame of the memories we had not made yet until my hands were full, but there were too many things I could not hold. Too many words I could not write. Too many us I could not long for.
If I decided to lie beneath the ground, would y–
Would it heal everyone?
I still can’t find the answer.
I have been looking for a soft whisper in crowded halls, a gentle touch among the raging waves; a genuine tenderness.
I could not hear a thing.
I have kept a stack of feelings behind my bedroom door, locking them away, not knowing how the roof had been long gone and what seemed like a laundry pile is now an overgrown mountain.
You should see how stunning the sunset looks like from up here.
I have walked through the wreckage of our past, picking up every bit of shattered glass and scraped paper and wooden frame of the memories we had not made yet until my hands were full, but there were too many things I could not hold. Too many words I could not write. Too many us I could not long for.
If I decided to lie beneath the ground, would y–
Would it heal everyone?
March 4, 2017
"Come, sit with me" He said.
"One day when we're old, we will remember this exact moment." His eyes lightened up, catching every inch of the scenery in front of him.
"And what will you think of?" I mumbled while chewing a chocolate bar, moving my feet up and down immaturely.
"Oh, these old cracked walls and wet bench and tall shady trees--and this view we're looking at; all that might just be a memory, twenty years from now."
I nodded.
"But most of all,"
He sighed and looked at me, softly.
"I'll be thinking of you."
I could see a tiny spark of gloom in his dreamy eyes.
"One day when we're old, we will remember this exact moment." His eyes lightened up, catching every inch of the scenery in front of him.
"And what will you think of?" I mumbled while chewing a chocolate bar, moving my feet up and down immaturely.
"Oh, these old cracked walls and wet bench and tall shady trees--and this view we're looking at; all that might just be a memory, twenty years from now."
I nodded.
"But most of all,"
He sighed and looked at me, softly.
"I'll be thinking of you."
I could see a tiny spark of gloom in his dreamy eyes.
February 28, 2017
They were walking on the left side of the road, watching the cars that moved in a slow motion; a hundred faces with a hundred different stories.
It was almost a hot day.
He wore a striped jacket and she accused him for stealing it from a zebra; and they laughed at her lame jokes, his unamusing puns, and their unbelievably dry sense of humor.
The pavements were filled with nothing but giggles, and yellow, and pink.
But she was wondering
Why did it feel like she was ten feet under the water, grasping for air---drowned in a pitch black sea?
It was almost a hot day.
He wore a striped jacket and she accused him for stealing it from a zebra; and they laughed at her lame jokes, his unamusing puns, and their unbelievably dry sense of humor.
The pavements were filled with nothing but giggles, and yellow, and pink.
But she was wondering
Why did it feel like she was ten feet under the water, grasping for air---drowned in a pitch black sea?
February 27, 2017
"What if," She whispered.
"What if summer remains the same and the sun shines too fondly that rain makes no sense at all?"
They stared at the coffee table, letting the words float between the air--and the question marks.
"What then?"
There was only silence.
"What if summer remains the same and the sun shines too fondly that rain makes no sense at all?"
They stared at the coffee table, letting the words float between the air--and the question marks.
"What then?"
There was only silence.
December 25, 2016
Sungguh
Tak apa.
Kau sudah menjelma hujan yang deras tiba-tiba, membasuh kota dengan sejuk yang berlebihan. Kau acara tv membosankan yang kita perbincangkan di ruang tunggu apotek, mengulur waktu perpisahan. Kau debur ombak yang berkejaran, menggenggam wajahku yang merindukan lautan. Kau gurih dalam kuning telur setengah matang. Kau dekap yang tersisipkan dalam jaket tebal yang kupeluk ketika kantuk menghadang. Kau wafer coklat di antara cracker keju yang menyelamatkanku di pagi yang meradang. Kau ada dalam setiap tokoh ratusan film yang sudah atau belum aku saksikan. Kau mimpi yang tak pernah alpa setiap lelap membuai. Kau bersemayam dalam nada minor lagu-lagu yang kita perdengarkan. Kau pilar tinggi penyangga yang belum pernah kutemukan. Kau hangat di tepi pantai setelah badai menghantam pesisir tadi malam. Kau menyusup dalam cerita masa kecil yang bermain di sekitar rumah, sekolah, atau hutan. Kau adalah sengatan adrenalin setiap sesuatu yang menyenangkan datang. Kau menjadi detik-detik yang ingin kuceritakan. Kau sapa yang terlukis dalam selamat malam. Kau pendar lampu di sepanjang jalan. Kau nikmat dalam setusuk sate kulit ayam. Kau untaian kata yang tak akan pernah kuucapkan. Kau gurat senyum nenek pengemis tua yang duduk di samping trotoar. Kau pekat teh panas dalam genggaman. Kau dengkur kucing yang tidur di atas pangkuan. Kau hadir dalam potongan adegan yang kita tertawakan. Kau embun yang menyelimuti Bandung di pagi bulan kemarau. Kau ada-di setiap sudut yang kulalui dalam temaram, lubang yang kuhindari di jalan, jeda di tengah keramaian; di antara segalanya.
Tenanglah.
Tak akan ada duka yang mampu menandingi semesta yang telah kau selamatkan.
Pergilah,
Karena kau telah abadi.
Kau sudah menjelma hujan yang deras tiba-tiba, membasuh kota dengan sejuk yang berlebihan. Kau acara tv membosankan yang kita perbincangkan di ruang tunggu apotek, mengulur waktu perpisahan. Kau debur ombak yang berkejaran, menggenggam wajahku yang merindukan lautan. Kau gurih dalam kuning telur setengah matang. Kau dekap yang tersisipkan dalam jaket tebal yang kupeluk ketika kantuk menghadang. Kau wafer coklat di antara cracker keju yang menyelamatkanku di pagi yang meradang. Kau ada dalam setiap tokoh ratusan film yang sudah atau belum aku saksikan. Kau mimpi yang tak pernah alpa setiap lelap membuai. Kau bersemayam dalam nada minor lagu-lagu yang kita perdengarkan. Kau pilar tinggi penyangga yang belum pernah kutemukan. Kau hangat di tepi pantai setelah badai menghantam pesisir tadi malam. Kau menyusup dalam cerita masa kecil yang bermain di sekitar rumah, sekolah, atau hutan. Kau adalah sengatan adrenalin setiap sesuatu yang menyenangkan datang. Kau menjadi detik-detik yang ingin kuceritakan. Kau sapa yang terlukis dalam selamat malam. Kau pendar lampu di sepanjang jalan. Kau nikmat dalam setusuk sate kulit ayam. Kau untaian kata yang tak akan pernah kuucapkan. Kau gurat senyum nenek pengemis tua yang duduk di samping trotoar. Kau pekat teh panas dalam genggaman. Kau dengkur kucing yang tidur di atas pangkuan. Kau hadir dalam potongan adegan yang kita tertawakan. Kau embun yang menyelimuti Bandung di pagi bulan kemarau. Kau ada-di setiap sudut yang kulalui dalam temaram, lubang yang kuhindari di jalan, jeda di tengah keramaian; di antara segalanya.
Tenanglah.
Tak akan ada duka yang mampu menandingi semesta yang telah kau selamatkan.
Pergilah,
Karena kau telah abadi.
November 13, 2016
Biarlah
Biarkan aku memeluk kakimu dengan hangat yang lebih pekat dari kaus kaki di bulan Desember. Akan kubentengi setiap buku jarimu dari gigil dan perih yang menyusup di malam hari, meskipun deras akan menggerogoti helai buaiku perlahan sampai habis.
Biarkan aku bergelung di atas senyummu yang sabit selamanya, di antara bait kumis yang tercukur tidak rata dan hembusan panjang yang rela kutukar dengan setiap hela sajakku.
Biarkan aku menjelma kata yang tak akan pernah kau ucapkan, terpahat di sepanjang dinding jantungmu tak peduli seberapa gelap dan penuh sesak.
Biarkan aku mengendap di dasar cangkir kopi untuk mendengar setiap keluh kesahmu yang sesaat sebelum kau lempar aku ke dalam bak cuci.
Biarkan aku menyimpan satu lirik matamu dalam saku berenda di atas gaun biruku. Agar bisa kubuka setiap hitam menghiasi langit kota dan malam berkuasa sepanjang tahun, menjadikannya pagi yang melelehkan embun di setiap sela bunga tidurku.
Biarkan aku menjadi setapak panjang penuh genangan tanpa penerangan yang menggemakan tawamu dan mengukir dentingnya diam diam.
Biarkan aku menjelma rindumu, yang tiada.
Biarkan aku bergelung di atas senyummu yang sabit selamanya, di antara bait kumis yang tercukur tidak rata dan hembusan panjang yang rela kutukar dengan setiap hela sajakku.
Biarkan aku menjelma kata yang tak akan pernah kau ucapkan, terpahat di sepanjang dinding jantungmu tak peduli seberapa gelap dan penuh sesak.
Biarkan aku mengendap di dasar cangkir kopi untuk mendengar setiap keluh kesahmu yang sesaat sebelum kau lempar aku ke dalam bak cuci.
Biarkan aku menyimpan satu lirik matamu dalam saku berenda di atas gaun biruku. Agar bisa kubuka setiap hitam menghiasi langit kota dan malam berkuasa sepanjang tahun, menjadikannya pagi yang melelehkan embun di setiap sela bunga tidurku.
Biarkan aku menjadi setapak panjang penuh genangan tanpa penerangan yang menggemakan tawamu dan mengukir dentingnya diam diam.
Biarkan aku menjelma rindumu, yang tiada.
Subscribe to:
Posts (Atom)