May 28, 2016

Kita adalah sebuah kisah singkat

Dalam ruang kecil di balik duka
Kau terjemahkan aku
Peta yang terlukis di setiap denyut nadiku

Tatapmu tajam menghujam tubuhku
Menelisik masuk ke dalam aliran darahku
Menggenapkan lagu yang sayup terukir di dinding jantungku

Kita adalah sebuah kisah singkat

Sinarmu berpendar di balik
Benteng kokoh yang menjulang tinggi

Yang lalu seperti
Mengepungku dalam naungan
Peluk

Kita adalah sebuah kisah singkat

Berputar,
Memutar seperti bumi dan bulan yang
Tak lelahnya berkejaran
Merekam cerita dalam
Setiap sudut yang terbentang

Namun bagimu, aku
Hanyalah ribuan gelombang data
Yang bersuara tanpa bahasa

Kita adalah sebuah kisah singkat

Kau
Selamatkan aku.





Wedyata Larasartika
Bandung, 23 Mei 2016
Terinspirasi pemodelan cara kerja CT Scan
(Tugas Individu Mata Kuliah Pemodelan Matematika) 

January 25, 2016

Dan semoga,
Sakit yang kita rasakan menoreh rupa
Akan maaf yang sayap kan rasa
Tikam yang merah segar bertahtakan kata
Dan tabah, yang tumbuh di antara kedua kaki kita.

December 27, 2015

Kaca

Di balik sepenggal kicau pipit pagi ini
Kau turun bagai kabut
Menjejak setiap inci kulit dengan tamak
Hingga beku

Tapi aku tak pernah benci dingin

Di antara terik aspal jalur pantura
Kau kepul asap kendaraan, yang senantiasa
Berkorban untuk sejuk di balik jendela
Perlahan mendekap
Melekat di sepanjang dinding dada
Tak bisa hilang

Tapi aku tak keberatan tercekik

Di puncak kemelut yang sibuk mencambuk
Kau semilir yang membalut rasa
Menyerap segala perih
Dengan kecup bilur, dan
Manis sapa dalam sedan

Tapi aku tak perlu takut nestapa

Di bawah kanopi bintang malam ini
Kau samudera yang melantunkan puisi
Rindu di muka gelombang tinggi
Dan gemerlap hitam yang
Mendekap nelayan di permukaan
Lalu menariknya sampai ke dasar
Tiada bersisa

Tapi saat ini, aku tak takut mati

Maka jahit jemariku
Untuk kau jadikan perisai
Yang memelukmu dari karu prahara

Dan segalanya

Dan saat musim berganti gugur
Esa berganda rupa
Pun bumi hujan melihat kita,

Akan duduk saja di bangku
Seiring terang padam satu persatu;
Aku tak apa. 

December 15, 2015

Sekian

Aku selalu terpesona oleh kucing.
Tidak, kau tidak salah baca.
Kucing. Ya, kucing.

Yang hanya tidur dan bermain
Dan makan dan main
Dan tidur dan main
Dan bodoh dan main
Dan main....
Tidak perlu banyak usaha,
Tapi sudah lucu.

Lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh lampu-lampu jalan.

Barisan garis cahaya bernyanyi menemani kota yang sepi
Kalah jauh dibanding ribuan bintang di atas sana,
Tapi, tak apa.
Karena di balik kuning jingga di tepi jalan itu
Tersimpan berjuta kenangan dan harapan
Setiap jiwa yang melintasinya.

Lebih, lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh langit senja.

Lembayung yang berdansa perlahan,
Yang menggumamkan nada berlapis nostalgia
Seakan waktu berdetak lambat
Tertegun oleh hangat yang menyelimuti tubuh kita
Dalam damai

Lebih, lebih, lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh rintik hujan.

Derasnya sapa turun menggema
Menepis nyala merah yang menghantui dunia
Meluapkan hitam dalam dada, yang
Menyeruak serupa butir keringat hingga
Bersatu dengan udara yang dingin dan basah
Dan sendu

Lebih, lebih, lebih, lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh laut.

Kilau di atas gelombang yang naik, turun,
Memeluk hati dalam gejolak rasa
Seperti nelayan yang tak kuasa menjauhi badai
Hanya ingin memeluknya
Lalu tenggelam.







Tapi oh, ternyata







Lebih, lebih, lebih, lebih, lebih dari itu,

Aku selalu terpesona olehmu.

November 17, 2015

Sejangkar berlabuh di dadaku.

Kemudian asap bertengkar dalam sekoci
Mengalahkan laut yang menggelinjang di bawah terik pertiwi.

Berkelebat camar dalam anganku
Mengoyak daging nahkoda di ujung batas itu.

Adakah malam puas melahap fajar dalam senggama,
Ataukah nestapa?

Setan!
Selamat datang.

October 19, 2015

Flare

Kita adalah anjing yang melayang di atas bukit
Mengaduh setiap kali kabut turun,
Meraung agar mentari menjejak petir di kaki angin.

Kusentuh wajahmu
Kau terkam aku.

(Belum rampung. Terlanjur tidur)

September 28, 2015

Lampu Jalan

Angin bertiup kencang.

Saat hujan turun nanti, ia akan menghampiri dia yang sedang tengadah sambil tersenyum riang. Lalu mengajak dia berlari, melompat, menari. Menantang jutaan rintik yang menyapa tanah dalam deras. Habis kuyup, ia berikan segelas teh hangat agar dia tidak kedinginan. Rinai tidak pernah semerdu itu.

Ia akan menyematkan rangkaian melati di luar jendela. Biar sore nanti, dia pulang dan terpana - lalu senyum sendiri seperti orang gila.

Kemudian ia menitipkan secarik surat pada orang tak dikenal. Isinya hanya coretan. Atau mungkin tebak-tebakan. Atau potongan kalimat iklan.

Aneh. Tidak lucu, tapi berhasil bikin dia tertawa.

Ia tidak akan banyak memuja. Begitupun memaksakan rayuan gombal yang didapat dari majalah di warung sebelah. Ia akan dengan santai mengutip puisi lama buatan dia, seakan sudah hapal kata demi kata. Atau menempelkan potongan puisi di sela lembar buku yang sedang dia baca. Dengan ringan meniti rasa.

Langit dan bumi akan bosan dengan tingkah ia yang tak ada habisnya. Pun semesta.

Tapi tidak untuk dia.

Seiring detik yang berderap perlahan, ia hadir dalam cahaya yang menerobos kaca jendela. Ia ada dalam butir hujan yang berdentum di atas atap gedung sekolah. Ia tak pernah absen muncul di billboard iklan setengah gombal. Cover buku teka teki silang. Tebak-tebakan renyah di radio. Setiap kata dalam lagu romansa. Untaian frasa kacangan novel remaja. Debur ombak di tepi pantai. Rembulan di tanggal belasan. Tanah kering pasca kemarau. Cokelat hijau dedaunan. Ia ada dalam hembus angin malam. Dalam lembut dekap senja di batas cakrawala. Di atas langit. Tanah. Udara.

Ia dan dia menyatu dalam debu kota yang tercampur asin hujan buatan.
Terbang bebas berpegangan tangan - hinggap di tembok batas jalan layang.
Membawa bisikan di tengah semesta yang tak hingga luasnya.
Hampir tiada.





Angin bertiup kencang. Jendela dibuka lebar-lebar.

Aku melesat pulang.

September 23, 2015

Jeruji Kaca

Kemudian di tengah bara api yang menyala di atas kota,
Angin menggonggongkan sajak pilu tentang amarah yang membeku
Ratusan besi karat menari beralaskan debu
Bertahtakan aku.

Lalu?

Matamu tertawa dalam gelap

Mengejek daun yang jatuh terseret hujan
Yang tak henti merintih sejak takbir berkumandang
Dalam senandung senyap.

Keparat.

Malam ke sembilan belas aku terjaga.
Di bawah mimpi bergelombang membentuk wajah wajah serupa
Hingga satu titik memecah semesta, dan
Alam bersorak menyambut satu nama.

Ya.
Berlarilah sekuat tenaga.

August 29, 2015

Siapa?

Kau membuatku ingin menulis.


Tentang seulas pucat sinar rembulan yang terlukis di wajahmu, menerbangkan butir hujan di sela dedaunan-lalu membelainya ke angkasa.

Tentang hijau laut yang menari di bola matamu, bergejolak lepas dalam hitam yang menyesapnya perlahan-membawaku tenggelam...

Tentang helai kapas dibalik ukiran kayu, berjejal menopang jutaan mimpi yang kau bawa dalam...

Tentang percik hangat di tengah badai salju yang kau hadirkan, genggam erat di tepi...

Tentang heningmu yang bernyanyi malu-malu, mendekap semesta hingga...

Tentang senja yang masih menyapa, menghidupkan kembali warna...

Tentang ratusan paragraf cerita tak bermakna...




Tentang rasa...





Tentang...















Kau membuatku ingin menulis

Tanpa kata.

August 23, 2015

.

Jika angin malam lalu yang dingin menusuk tak mampu menggigilkanku
Saat kutatap matamu yang dengan tajam menelisik ketiadaan,
Dan sepotong tawa lembut mengisi bingar dengan hening yang begitu cepat
Hingga bersemayam dalam angan sampai waktu tak bisa lagi kukejar,

Maka saat ini aku hanya bisa menatap langit langit
Berharap menemukan hitam di atas hamparan pasir dan rerumputan,
Mencari riak rembulan, atau siluet samar di kejauhan.
Berdoa untuk lupa.
Untuk rindu yang melebur dengan udara.
Semoga.

June 26, 2015

Jangan
Jangan berbaring di sampingku

Akan kutiup butir pelangi di pelupuk matamu
Hingga desau warna memenuhi ruang di antara kita
Dan setiap kata
Menggantung di udara
Berganti jingga

Jangan
Jangan duduk di sini

Gelombang nada akan menenggelamkanmu dalam sunyi
Saat akarku menggapai jemarimu
Lembut, seperti sinar bulan
Yang pucat keunguan
Di tengah terik siang kemarau

Jangan
Jangan menoleh

Kau akan melantunkan sungai yang tak pernah selesai
Dan kita akan menyelaminya lagi
Lagi
Lagi
Tak peduli seberapa
Dalam

Jangan
Jangan panggil namaku

Riak telaga akan menyesap putih tawamu
Dan kita mendesis biru
Di tengah ribuan kunang yang bersinar malu malu

Jangan,
Aku tak mau jatuh.

Kau akan melompat.





-Resah di malam buta, 
Angin pada serigala.