Tentu saja,
Dunia dan samudera warnanya
Tak akan berhenti menyapa
Dengan segala
Yang menggigilkan dada
Dalam tanya, dan
Lelah tak bermuara
Patah hati, nyatanya
Tak melulu soal cinta
July 27, 2016
July 24, 2016
Titik
Kuharap semua luka
Yang dulu kulukiskan
Telah moksa
Dalam cita
Dan persimpangan yang lain.
Terima kasih.
Hujan Bandung malam ini
Menyapaku dengan banyak cerita
Yang pernah kulantunkan padanya
Membuatku tertawa.
Aku telah bebas
Semoga kau pun begitu.
Yang dulu kulukiskan
Telah moksa
Dalam cita
Dan persimpangan yang lain.
Terima kasih.
Hujan Bandung malam ini
Menyapaku dengan banyak cerita
Yang pernah kulantunkan padanya
Membuatku tertawa.
Aku telah bebas
Semoga kau pun begitu.
June 22, 2016
Cerita Pendek
Aku bertanya pada ibu di jalan setapak
Yang membawa sebakul penuh warna
Berkilau diterpa terik matahari
Perhiasankah yang kau bawa
Senyumnya iba
Jauh lebih mahal dari emas dan berlian
Katanya
Alisku mengerut tajam
Adakah ucapmu hanya cerita
Tawa hangat berirama
Menjadi jawabnya
Aku seorang pedagang
Bagi pembeli yang
Dapat melihat warna
Sebagai tinta sepanjang hidupnya
Apalah itu
Ia membelai rambutku
Yang paling berharga
Dari seorang manusia
Dan
Kutitipkan padanya
Lebur dalam bakul penuh warna
Sebongkah
Hati
Yang membawa sebakul penuh warna
Berkilau diterpa terik matahari
Perhiasankah yang kau bawa
Senyumnya iba
Jauh lebih mahal dari emas dan berlian
Katanya
Alisku mengerut tajam
Adakah ucapmu hanya cerita
Tawa hangat berirama
Menjadi jawabnya
Aku seorang pedagang
Bagi pembeli yang
Dapat melihat warna
Sebagai tinta sepanjang hidupnya
Apalah itu
Ia membelai rambutku
Yang paling berharga
Dari seorang manusia
Dan
Kutitipkan padanya
Lebur dalam bakul penuh warna
Sebongkah
Hati
June 21, 2016
Masa Kecilku/nya
Duduk di bangku
Asap cangkir
Koran
Lari
Seputar halaman
Kaki hitam tanah
Hijau rumput terinjak
Lepas
Minyak menyalak
Meja bertata sendok garpu
Tanya gurau
Sarapan
Duduk di bangku
Asap cangkir
Ponsel
Telungkup
Seputar laman
Kaki pucat bulan
Abu rumput terjajah
Mudah
Cemas mengendap
Meja berhias gulungan kabel
Kicau sunyi
Selesai?
Asap cangkir
Koran
Lari
Seputar halaman
Kaki hitam tanah
Hijau rumput terinjak
Lepas
Minyak menyalak
Meja bertata sendok garpu
Tanya gurau
Sarapan
Duduk di bangku
Asap cangkir
Ponsel
Telungkup
Seputar laman
Kaki pucat bulan
Abu rumput terjajah
Mudah
Cemas mengendap
Meja berhias gulungan kabel
Kicau sunyi
Selesai?
Mungkin.
Bagaimana jika
Setubuh pilu itu
Tak lain
Hanyalah
Angan yang kau tempa
Dalam buai angin senja
Hingga
Menjadi belati berukir puisi
Menembus
Jantungmu.
Serahkan padaku
Akan hilang perih
Hatimu dalam genggaman
Tajam taringku
Yang tulus.
(Cintalah bukan karena aku)
Setubuh pilu itu
Tak lain
Hanyalah
Angan yang kau tempa
Dalam buai angin senja
Hingga
Menjadi belati berukir puisi
Menembus
Jantungmu.
Serahkan padaku
Akan hilang perih
Hatimu dalam genggaman
Tajam taringku
Yang tulus.
(Cintalah bukan karena aku)
June 14, 2016
June 13, 2016
May 31, 2016
Sebilah kata menari di balik bibir manismu
Memenggal rasa yang terseok memanjat tebing jantungku
Bermimpi puncak
Dan angin malam yang memeluk pekat
Sementara hangat nada terus terngiang
Hembusan yang sama,
Berulang-ulang,
Sampai mati tercekik
Apa mauku, katamu?
Hamparan rumput menghijau bermandikan kuning
Mentari yang membakar
Habis, bunga-bunga di pekarangan
Lenganmu hitam bermandikan amarah
Api
Apa maumu, kataku!
Gelombang pendar berlari di sepanjang pesisir
Membelah langit dan berjuta angannya
Seperti jutaan jiwa bersemayam di dalamnya
Terkikis satu persatu bersama
Badai yang menghempas sang nelayan tua
Dan air mata
Keluarga yang merindukannya
Lalu, bagaimana?
Memenggal rasa yang terseok memanjat tebing jantungku
Bermimpi puncak
Dan angin malam yang memeluk pekat
Sementara hangat nada terus terngiang
Hembusan yang sama,
Berulang-ulang,
Sampai mati tercekik
Apa mauku, katamu?
Hamparan rumput menghijau bermandikan kuning
Mentari yang membakar
Habis, bunga-bunga di pekarangan
Lenganmu hitam bermandikan amarah
Api
Apa maumu, kataku!
Gelombang pendar berlari di sepanjang pesisir
Membelah langit dan berjuta angannya
Seperti jutaan jiwa bersemayam di dalamnya
Terkikis satu persatu bersama
Badai yang menghempas sang nelayan tua
Dan air mata
Keluarga yang merindukannya
Lalu, bagaimana?
"Maumu Bepergian, Mauku Tidur Seharian"
Bosan libur, Eduplex, Bandung
May 28, 2016
Kita adalah sebuah kisah singkat
Dalam ruang kecil di balik duka
Kau terjemahkan aku
Peta yang terlukis di setiap denyut nadiku
Tatapmu tajam menghujam tubuhku
Menelisik masuk ke dalam aliran darahku
Menggenapkan lagu yang sayup terukir di dinding jantungku
Kita adalah sebuah kisah singkat
Sinarmu berpendar di balik
Benteng kokoh yang menjulang tinggi
Yang lalu seperti
Mengepungku dalam naungan
Peluk
Kita adalah sebuah kisah singkat
Berputar,
Memutar seperti bumi dan bulan yang
Tak lelahnya berkejaran
Merekam cerita dalam
Setiap sudut yang terbentang
Namun bagimu, aku
Hanyalah ribuan gelombang data
Yang bersuara tanpa bahasa
Kita adalah sebuah kisah singkat
Kau
Selamatkan aku.
Dalam ruang kecil di balik duka
Kau terjemahkan aku
Peta yang terlukis di setiap denyut nadiku
Tatapmu tajam menghujam tubuhku
Menelisik masuk ke dalam aliran darahku
Menggenapkan lagu yang sayup terukir di dinding jantungku
Kita adalah sebuah kisah singkat
Sinarmu berpendar di balik
Benteng kokoh yang menjulang tinggi
Yang lalu seperti
Mengepungku dalam naungan
Peluk
Kita adalah sebuah kisah singkat
Berputar,
Memutar seperti bumi dan bulan yang
Tak lelahnya berkejaran
Merekam cerita dalam
Setiap sudut yang terbentang
Namun bagimu, aku
Hanyalah ribuan gelombang data
Yang bersuara tanpa bahasa
Kita adalah sebuah kisah singkat
Kau
Selamatkan aku.
Wedyata Larasartika
Bandung, 23 Mei 2016
Terinspirasi pemodelan cara kerja CT Scan
(Tugas Individu Mata Kuliah Pemodelan Matematika)
January 25, 2016
December 27, 2015
Kaca
Di balik sepenggal kicau pipit pagi ini
Kau turun bagai kabut
Menjejak setiap inci kulit dengan tamak
Hingga beku
Tapi aku tak pernah benci dingin
Di antara terik aspal jalur pantura
Kau kepul asap kendaraan, yang senantiasa
Berkorban untuk sejuk di balik jendela
Perlahan mendekap
Melekat di sepanjang dinding dada
Tak bisa hilang
Tapi aku tak keberatan tercekik
Di puncak kemelut yang sibuk mencambuk
Kau semilir yang membalut rasa
Menyerap segala perih
Dengan kecup bilur, dan
Manis sapa dalam sedan
Tapi aku tak perlu takut nestapa
Di bawah kanopi bintang malam ini
Kau samudera yang melantunkan puisi
Rindu di muka gelombang tinggi
Dan gemerlap hitam yang
Mendekap nelayan di permukaan
Lalu menariknya sampai ke dasar
Tiada bersisa
Tapi saat ini, aku tak takut mati
Maka jahit jemariku
Untuk kau jadikan perisai
Yang memelukmu dari karu prahara
Dan segalanya
Dan saat musim berganti gugur
Esa berganda rupa
Pun bumi hujan melihat kita,
Akan duduk saja di bangku
Seiring terang padam satu persatu;
Aku tak apa.
Kau turun bagai kabut
Menjejak setiap inci kulit dengan tamak
Hingga beku
Tapi aku tak pernah benci dingin
Di antara terik aspal jalur pantura
Kau kepul asap kendaraan, yang senantiasa
Berkorban untuk sejuk di balik jendela
Perlahan mendekap
Melekat di sepanjang dinding dada
Tak bisa hilang
Tapi aku tak keberatan tercekik
Di puncak kemelut yang sibuk mencambuk
Kau semilir yang membalut rasa
Menyerap segala perih
Dengan kecup bilur, dan
Manis sapa dalam sedan
Tapi aku tak perlu takut nestapa
Di bawah kanopi bintang malam ini
Kau samudera yang melantunkan puisi
Rindu di muka gelombang tinggi
Dan gemerlap hitam yang
Mendekap nelayan di permukaan
Lalu menariknya sampai ke dasar
Tiada bersisa
Tapi saat ini, aku tak takut mati
Maka jahit jemariku
Untuk kau jadikan perisai
Yang memelukmu dari karu prahara
Dan segalanya
Dan saat musim berganti gugur
Esa berganda rupa
Pun bumi hujan melihat kita,
Akan duduk saja di bangku
Seiring terang padam satu persatu;
Aku tak apa.
Subscribe to:
Posts (Atom)