March 23, 2015

Hai.

Disini gelap.
Jalanan seakan-akan merayap mendekat dengan cepat, merangkul sunyi yang berpendar malam ini.
Kau tahu rasanya, ketika radio tidak bisa melenyapkan sepi?
Setiap nada seperti membentuk sebilah sendu, dalam sekejap mengisi dadamu sampai sesak.
Tak tahu kenapa.

Yang kau tahu, kau ingin cepat pulang.
Atau sebisa mungkin tidak berada di tengah kelabu yang tak ada habisnya,
Sekaligus ingin tenggelam di telan aspal yang terlihat begitu hangat.

Yang kau tahu,
Ranting pepohonan membentuk siluet
Ribuan garis di atas kanvas hitam
Bergenggam erat, meski saling tergores

Yang kau tahu,
Sepotong sapa di ujung jalan itu
Benar-benar kau rindukan.
Meski mungkin tidak akan lagi kau temukan.

Dan yang kau tahu,
Menara di jalan layang tidak lagi bersinar
Kemelut ini membuaimu terus melaju kencang
Lagi,
Lagi,
Lagi...





Yang kau tahu,
Ruangan itu begitu cerah.
Apakah ini rumah? Pantai?

Dan kemudian ia datang.
Menggenggam tanganmu,
Tersenyum lebar.
“Dari mana saja?”

Dan kau pun tahu,
Kini, kau telah pulang.


March 10, 2015

Tuhan,

Siang tadi aku sengaja beli domino’s fantastic four dengan topping american classic cheese burger. Dua kotak kecil aku makan sendiri, satu untuk temanku, dan satu lagi kusisakan untuk siapapun yang berpapasan denganku, dan, beruntung.

Satu kotak itu kubawa-bawa sambil berjalan ringan ke arah masjid salman. Tadinya akan kuberi pada tim tukang parkir, tapi sepertinya terlalu kecil. Aku kembali melenggang menyeberang jalan – berharap berpapasan, dengan, entahlah – mungkin orang yang kukenal, atau, wajah asing yang lumayan tampan.

Kau tahu, Tuhan,

Di seberang jalan itu ada nenek-nenek yang sedang duduk di trotoar. Digelarnya terpal kecil untuk menjajakan beberapa jajanan seperti beng-beng, richeese wafer, dan lain sebagainya. Harganya memang mahal, tapi untuk seorang nenek berjualan seperti itu, kurasa memang wajar. 

Aku melewatinya.

Beberapa langkah kemudian, kakiku terhenti. Lalu aku berbalik mendekati nenek itu, dan bertanya.
“Bu, udah makan?”
Dia tertawa, bingung. 
“Mau ini bu?” Kusodorkan kotak kecil itu. 
“Itu apa?” 
“Pizza bu. Ini, buat ibu aja ya.”
 Lalu dia menerima dengan sedikit kikuk sambil menawarkan jajanannya. 
“Ini neng, mau bawa yang mana?” aku menggeleng dan pergi. 

Tuhan, muka nenek itu berseri seri. Senang sekali. 

Bahagia rasanya, melihat nenek itu. Menuju tempat wudhu aku bermonolog dalam hati. Harusnya, seorang ibu berusia lanjut sudah saatnya tinggal duduk di rumah, menemani cucu yang sudah mulai remaja sambil menunggu anaknya pulang. Bukankah ingin setiap hari melihatnya tersenyum senang seperti itu?

Lalu, Tuhan,

Tiba-tiba saja, rasanya, seperti ada yang tertoreh. 

Aku teringat Nenek.

Yang memiliki senyum paling khas – cengiran tulus saat dibawakan apa saja setiap pulang ke rumah. Yang akan menggenggam (padahal cuma camilan) erat-erat di depan dadanya sambil menyeringai lebar sampai matanya hampir tenggelam, lalu bilang, “Asiiiik! Nuhun eeeuy” dan memakannya pelan-pelan. Menikmati setiap gigitan.

Nenek yang jika dibawakan es krim, sate, atau durian, akan duduk di atas kasur sambil ucang angge dan cekikikan – dengan binar seperti di mata anak bayi yang melihat wajah kedua orang tuanya. Lalu melambaikan tangan agar aku duduk di sampingnya. Makan sambil tertawa sampai mulut belepotan.

Tuhan, aku ingin membawakan banyak kue untuk nenek.

Setiap aku duduk di depan tv, sebenarnya aku masih berharap nenek membuka pintu kamarnya sambil celingak-celinguk (dan jika ada bapak) cengengesan, lalu duduk di kursi sebelah kanan. Berjuta kali kita mengajak nenek duduk di tengah, tapi lebih rela leher pegal pegal ketimbang sungkan. Begitu pun, dia tetap menonton sambil tersenyum – meskipun sudah agak tidak kedengaran.

Tuhan, aku ingin membelikannya batere untuk alat dengar.



Dan semua ini datang seperti gelombang ombak melahap habis istana pasir yang terlihat padat dan kokoh, menyapunya habis tak bersisa.

Kita tidak bisa membahagiakan mereka yang sudah tiada.



Aku sesenggukan, padahal sudah sebisa mungkin ditahan. Lalu sok tenang padahal mata seperti tertarik ke belakang.

Tuhan, 

Aku belum pernah merasa begitu kehilangan.

Terutama kesempatan untuk melihat senyum tulusnya.






Kalau bisa, aku ingin membawakan semua kue, susu, eskrim, durian, sate, mesin jahit, kain, dan semua hal favorit nenek yang ada di dunia ini untuknya. 






Tuhan,

Tolong bahagiakan Nenek. 



Suatu hari nanti, aku akan melihatnya lagi,

Dan ikut tersenyum.

February 12, 2015

Gerimis di Jalanan

Dunia berputar kencang.
Semua berlalu lalang.
Aku tertinggal.

Apa kabarmu, Sayang?

Kucing menari di pojok kamarku. Bahagia dengan dunianya yang tak lebih dari ruangan empat ratus meter persegi ditambah beberapa gang sempit di luar. Mendengkur seperti tidak ada yang bisa mendengar.

Ah, betapa iri rasanya.

Sekarang, ia menggosok lehernya ke setiap kaki furnitur. Gatal. Lalu mengeong-ngeong lapar. Kau tahu apa enaknya jadi kucing? Tidak usah memikirkan masa depan. Terlahir di rumah yang nyaman, diberi makan tiga kali sehari. Yang penting terlihat lucu, tak peduli bagaimana busuk hatinya.

Kemudian aku berkaca.
Aku adalah kucing.

Dan kamu pasti tertawa. Tidak, tidak. Aku sedang serius.
Terkadang, semua orang hanya bisa melihat apa yang terpantul di permukaan – langit yang indah, cerah, mendung, jingga, biru, begitu berwarna. Tapi jika kau mendekat, riak itu kehitaman, dengan gelembung panas meletup di dalam. Mengejar kebas – tak sampai.

Bahagiakah kamu?

Adzan magrib bergema dari tiga penjuru – tiga musola berbeda yang tidak mau menyamakan frekuensi, tapi memilih untuk tumpang tindih beresonansi (atau sengaja ingin saling menghilangkan). Sampai tidak jelas sedang berdoa, mengaji, bernyanyi, atau ada yang mati. Bukannya mengejek Tuhan. Justru seharusnya kita bisa menghargai-Nya tanpa pamrih. Tanpa jadi sombong.


Jumat pertama. Mungkin, kamu sudah lupa.

Hujan mengetuk jendela.

Aku tidak mengerti bagaimana hujan bisa turun dimana saja, dengan mudahnya, lalu berhenti. Tanpa ragu, untuk hinggap di belahan lain bumi. Tak peduli sedang kemarau atau banjir memenuhi atap sekolahan; yang di bawah sana menangisi rumah tergenang atau menari kegirangan. Hujan hadir meninggalkan basah yang begitu syahdu – dan nostalgia, lalu pergi begitu saja. Tidakkah ia ingin mengenal rumah? Bukankah ada yang selalu menanti kedatangannya?

Kuharap, kamu baik-baik disana.


Kau tahu,

Meskipun hujan bisa berkelana, melihat apa saja – merengkuh siapa saja, aku memilih untuk duduk di atas kursi empuk menjilati tanganku yang hitam kecokelatan. Sambil sesekali mendongak ke atas, berharap sekarang hujan. Atau majikan datang membawa ikan segar.

Aku ingin jadi kucing selamanya.


Hujan menyenandungkan lagu cinta. Atau mungkin sudah waktunya salat isya.


Semoga kamu menemukan samudera,
Yang akan membawamu pulang.

Selamat malam.

February 3, 2015

A little bit too often

Buat apa kata
Kalau dengan bertatapan, kita
Sudah sama sama mengerti

Cukup sampai disini.

January 28, 2015

-

Kita hanyalah sebuah keterbinasaan yang tertunda.
Mencari bentuk, wajah,
Rasa,
Makna
Mendamba sosok berbayang diantara ramai belantara
Atau, sekedar berburu mangsa.

December 11, 2014

Elang

Debur ombak berseru di kejauhan
Menebar rindu yang tak juga beranjak pulang

Lalu, tiba-tiba saja, kamu ada di sini.

Kamu, Dik.
Memakai kemeja yang biasanya kuledek karena sudah lusuh
Membawa tas selempang yang tidak kalah usangnya
Tersenyum, seperti menemukan salju turun di sahara
Dengan sorot menghangatkan
Sekaligus mencengkeram dengan gigil

Pasir mengaburkan pandanganku
Dan tiba-tiba,
Aku tersentak

Jika kamu ada di sini,
Apakah aku sudah mati?

December 9, 2014

Sebotol Dekap

Saya tahu kita cuma berpura pura.
Kamu pun begitu.

Tapi biarlah,
Sekali ini saja,
Biarkan belenggu ini menjilati setiap inci tubuh kita
Yang dengan tamak saling melahap
Sampai ruang yang disediakan untuk duka habis berbanjir peluh
Sedu sedan terganti lenguh

Biarlah,
Sekali ini saja,
Sampai rasa habis tak bersisa
Atas nama cinta.

December 7, 2014

Lagi.

Aku ingin kamu ada di sini,
Di sampingku.
Ribut bercerita tentang berbagai hal yang mungkin tidak sepenuhnya kumengerti.
Lalu kamu cemberut karena aku hanya menertawakan.

Atau mungkin, kamu diam memperhatikan aku yang sedang sibuk mengetik.
Entah membuat tugas, atau mengarang bebas.
Atau diam-diam menulis tentangmu.

Aku ingin kamu ada di sini.
Di layar tepat dihadapanku.
Mendebatkan lagu apa yang enak didengar
Atau detail kecil tentang kejadian kemarin
Yang kita sudah sama sama lupa.

Atau tiba-tiba saja, kamu memunculkan satu potong kalimat yang menghilangkan kesedihan.
Memunculkan senyum yang tidak mau beranjak pergi.

Aku ingin kamu ada di sini.
Di depan pintu.
Saat panas terik membakar dunia,
Dengan cengiran lebar dan keringat yang mengalir di dahi
Lalu bilang, "Permisi mbak, ada es teh manis?"

Atau hujan turun dengan lebatnya
Lalu kamu mengetuk dengan semangat
Sambil berteriak,
"Ras, hujan ras! Ayo jalan jalan!"

Aku ingin kamu ada di sini.
Di depanku.
Membagi ratusan bongkahan batu yang dijejalkan ke dalam hati
Sampai sesak

Atau sama sama melemparnya entah kemana
Lalu menertawakan apa saja,
Sepuas puasnya
Sampai menangis

Aku ingin kamu ada di sini.
Di dekatku.
Untuk berbagi hari,

Atau sama-sama menemukan rumah
Saat saling bertatapan.



Aku ingin kamu ada di sini.




Tapi kalau kamu ada di sini
Hanya untuk mengisi
Dengan ukiran indah dan
Senandung merdu
Di setiap sudut hati

Lalu tiba-tiba pergi,


Bukankah lebih baik sepi?

November 17, 2014

Tentang...

Cinta adalah penjara.
Membawa pergi mimpi yang membara,
Melahap habis logika,
Membiarkan setiap manusia yang masuk perangkapnya kehabisan kata
Bisu dengan jutaan tanya.

Cinta adalah ombak yang bergemuruh
Berpendar dibawah sinar rembulan
Bergulung gulung mengejar langit
Terhempas lautan

Cinta adalah neraka
Merah menyala
Membakar jiwa
Menenggelamkan siapa saja

Hingga kita lupa

Bahwa cinta adalah bunga yang bermekaran di musim semi, bermandikan cahaya mentari.

Cinta adalah hujan yang turun di bulan Juni.
Senyum tulus orang asing di tempat antri,
Aroma rumah dan bau terasi,
Omelan Ibu yang tiada henti,
Pidato upacara senin pagi,
Cerahnya hari saat akan berekreasi,
Peluk Ayah dengan kumis galaknya saat pulang malam hari,
Obrolan panjang dengan teman dari hati ke hati,
Kue buatan Nenek di hari Idul Fitri

Dan kita terkadang lupa,

Cinta adalah sebuah kesederhanaan.
Dalam kebersamaan,
Dalam jarak yang membebaskan.

Ada, sekarang,
Atau tersimpan dalam kenangan.

Penuh harapan,
Namun juga terselimuti kekecewaan.

Cinta adalah siksaan.
Tapi hati, hanya cinta yang bisa menyembuhkan.

Cinta yang tak hanya memberi, tapi juga sepenuhnya meyakini.
Dari hati ke hati.
Tanpa permisi, tanpa basa basi.

Cinta selalu ada,
Menerima apa adanya.

Cinta adalah sebuah kesederhanaan.
Cinta adalah kehidupan.
Cinta
Adalah kita.



21 Februari 2014, 21:30

November 14, 2014

Kau, Aku

Di atas debur ombak yang tidak ada habisnya ini,
Aku menjelma jadi pasir.
Terkikis sedikit demi sedikit demi menyesap aroma laut, terbang, dan menggenggam dunia dalam ketiadaan.
Berdenyar di bawah terik rembulan yang menyinari sepasang kekasih di atas rerumputan, saling menggenggam tangan, bertatapan seperti hendak menjatuhkan diri ke dalam jurang yang terpahat rapi di dalamnya. 

Di atas debur ombak yang tidak ada habisnya ini,
Angin meniupkan namamu,
Menyelipkannya dalam tiap serpihku yang melayang jauh, hinggap di atas puing puing reruntuhan yang membentuk kuil untuk sang malam.
Menghujamkannya ribuan kali ke dalam satu persatu sel tubuhku yang menggelepar dalam rengkuhan petir yang hanya ingin melindunginya dari amukan badai.

Di atas debur ombak yang tidak ada habisnya ini,
Ia meneriakkan sepotong nama, sekuat tenaga, berharap menemukan yang tak pernah ada
Terus melempar suara ke dalam hening samudera.
Percaya, dengan rasa yang tak ada tandingnya, sosok itu hadir di atas gemerlap air - dengan senyumnya yang memesona.
Percaya, dengan rindu yang tak mungkin lagi terbendung dalam hati, jarak rela menghapuskan dirinya malam ini
Sampai daya habis tak bersisa...

Di atas debur ombak yang tidak ada habisnya ini,
Luruh sudah dinding yang membatasi kita dengan tanya
Berganti hitam yang mendekap lembut, membiarkan kita terlelap di tengah arus cinta
Yang membunuh segalanya.





Di atas debur ombak yang tidak ada habisnya ini,
Kau datang



Aku tenggelam
Hilang.