Hujan.
March 31, 2015
March 23, 2015
Hai.
March 10, 2015
✉
February 12, 2015
Gerimis di Jalanan
February 3, 2015
A little bit too often
Buat apa kata
Kalau dengan bertatapan, kita
Sudah sama sama mengerti
Cukup sampai disini.
January 28, 2015
-
Kita hanyalah sebuah keterbinasaan yang tertunda.
Mencari bentuk, wajah,
Rasa,
Makna
Mendamba sosok berbayang diantara ramai belantara
Atau, sekedar berburu mangsa.
December 11, 2014
Elang
Menebar rindu yang tak juga beranjak pulang
Lalu, tiba-tiba saja, kamu ada di sini.
Kamu, Dik.
Memakai kemeja yang biasanya kuledek karena sudah lusuh
Membawa tas selempang yang tidak kalah usangnya
Tersenyum, seperti menemukan salju turun di sahara
Dengan sorot menghangatkan
Sekaligus mencengkeram dengan gigil
Pasir mengaburkan pandanganku
Dan tiba-tiba,
Aku tersentak
Jika kamu ada di sini,
Apakah aku sudah mati?
December 9, 2014
Sebotol Dekap
Saya tahu kita cuma berpura pura.
Kamu pun begitu.
Tapi biarlah,
Sekali ini saja,
Biarkan belenggu ini menjilati setiap inci tubuh kita
Yang dengan tamak saling melahap
Sampai ruang yang disediakan untuk duka habis berbanjir peluh
Sedu sedan terganti lenguh
Biarlah,
Sekali ini saja,
Sampai rasa habis tak bersisa
Atas nama cinta.
December 7, 2014
Lagi.
Di sampingku.
Ribut bercerita tentang berbagai hal yang mungkin tidak sepenuhnya kumengerti.
Lalu kamu cemberut karena aku hanya menertawakan.
Atau mungkin, kamu diam memperhatikan aku yang sedang sibuk mengetik.
Entah membuat tugas, atau mengarang bebas.
Atau diam-diam menulis tentangmu.
Aku ingin kamu ada di sini.
Di layar tepat dihadapanku.
Mendebatkan lagu apa yang enak didengar
Atau detail kecil tentang kejadian kemarin
Yang kita sudah sama sama lupa.
Atau tiba-tiba saja, kamu memunculkan satu potong kalimat yang menghilangkan kesedihan.
Memunculkan senyum yang tidak mau beranjak pergi.
Aku ingin kamu ada di sini.
Di depan pintu.
Saat panas terik membakar dunia,
Dengan cengiran lebar dan keringat yang mengalir di dahi
Lalu bilang, "Permisi mbak, ada es teh manis?"
Atau hujan turun dengan lebatnya
Lalu kamu mengetuk dengan semangat
Sambil berteriak,
"Ras, hujan ras! Ayo jalan jalan!"
Aku ingin kamu ada di sini.
Di depanku.
Membagi ratusan bongkahan batu yang dijejalkan ke dalam hati
Sampai sesak
Atau sama sama melemparnya entah kemana
Lalu menertawakan apa saja,
Sepuas puasnya
Sampai menangis
Aku ingin kamu ada di sini.
Di dekatku.
Untuk berbagi hari,
Atau sama-sama menemukan rumah
Saat saling bertatapan.
Aku ingin kamu ada di sini.
Tapi kalau kamu ada di sini
Hanya untuk mengisi
Dengan ukiran indah dan
Senandung merdu
Di setiap sudut hati
Lalu tiba-tiba pergi,
Bukankah lebih baik sepi?
November 17, 2014
Tentang...
Cinta adalah penjara.
Membawa pergi mimpi yang membara,
Melahap habis logika,
Membiarkan setiap manusia yang masuk perangkapnya kehabisan kata
Bisu dengan jutaan tanya.
Cinta adalah ombak yang bergemuruh
Berpendar dibawah sinar rembulan
Bergulung gulung mengejar langit
Terhempas lautan
Cinta adalah neraka
Merah menyala
Membakar jiwa
Menenggelamkan siapa saja
Hingga kita lupa
Bahwa cinta adalah bunga yang bermekaran di musim semi, bermandikan cahaya mentari.
Cinta adalah hujan yang turun di bulan Juni.
Senyum tulus orang asing di tempat antri,
Aroma rumah dan bau terasi,
Omelan Ibu yang tiada henti,
Pidato upacara senin pagi,
Cerahnya hari saat akan berekreasi,
Peluk Ayah dengan kumis galaknya saat pulang malam hari,
Obrolan panjang dengan teman dari hati ke hati,
Kue buatan Nenek di hari Idul Fitri
Dan kita terkadang lupa,
Cinta adalah sebuah kesederhanaan.
Dalam kebersamaan,
Dalam jarak yang membebaskan.
Ada, sekarang,
Atau tersimpan dalam kenangan.
Penuh harapan,
Namun juga terselimuti kekecewaan.
Cinta adalah siksaan.
Tapi hati, hanya cinta yang bisa menyembuhkan.
Cinta yang tak hanya memberi, tapi juga sepenuhnya meyakini.
Dari hati ke hati.
Tanpa permisi, tanpa basa basi.
Cinta selalu ada,
Menerima apa adanya.
Cinta adalah sebuah kesederhanaan.
Cinta adalah kehidupan.
Cinta
Adalah kita.
21 Februari 2014, 21:30
November 14, 2014
Kau, Aku
Aku menjelma jadi pasir.
Terkikis sedikit demi sedikit demi menyesap aroma laut, terbang, dan menggenggam dunia dalam ketiadaan.
Berdenyar di bawah terik rembulan yang menyinari sepasang kekasih di atas rerumputan, saling menggenggam tangan, bertatapan seperti hendak menjatuhkan diri ke dalam jurang yang terpahat rapi di dalamnya.
Angin meniupkan namamu,
Menyelipkannya dalam tiap serpihku yang melayang jauh, hinggap di atas puing puing reruntuhan yang membentuk kuil untuk sang malam.
Menghujamkannya ribuan kali ke dalam satu persatu sel tubuhku yang menggelepar dalam rengkuhan petir yang hanya ingin melindunginya dari amukan badai.
Aku tenggelam
Hilang.