November 17, 2015

Sejangkar berlabuh di dadaku.

Kemudian asap bertengkar dalam sekoci
Mengalahkan laut yang menggelinjang di bawah terik pertiwi.

Berkelebat camar dalam anganku
Mengoyak daging nahkoda di ujung batas itu.

Adakah malam puas melahap fajar dalam senggama,
Ataukah nestapa?

Setan!
Selamat datang.

October 19, 2015

Flare

Kita adalah anjing yang melayang di atas bukit
Mengaduh setiap kali kabut turun,
Meraung agar mentari menjejak petir di kaki angin.

Kusentuh wajahmu
Kau terkam aku.

(Belum rampung. Terlanjur tidur)

September 28, 2015

Lampu Jalan

Angin bertiup kencang.

Saat hujan turun nanti, ia akan menghampiri dia yang sedang tengadah sambil tersenyum riang. Lalu mengajak dia berlari, melompat, menari. Menantang jutaan rintik yang menyapa tanah dalam deras. Habis kuyup, ia berikan segelas teh hangat agar dia tidak kedinginan. Rinai tidak pernah semerdu itu.

Ia akan menyematkan rangkaian melati di luar jendela. Biar sore nanti, dia pulang dan terpana - lalu senyum sendiri seperti orang gila.

Kemudian ia menitipkan secarik surat pada orang tak dikenal. Isinya hanya coretan. Atau mungkin tebak-tebakan. Atau potongan kalimat iklan.

Aneh. Tidak lucu, tapi berhasil bikin dia tertawa.

Ia tidak akan banyak memuja. Begitupun memaksakan rayuan gombal yang didapat dari majalah di warung sebelah. Ia akan dengan santai mengutip puisi lama buatan dia, seakan sudah hapal kata demi kata. Atau menempelkan potongan puisi di sela lembar buku yang sedang dia baca. Dengan ringan meniti rasa.

Langit dan bumi akan bosan dengan tingkah ia yang tak ada habisnya. Pun semesta.

Tapi tidak untuk dia.

Seiring detik yang berderap perlahan, ia hadir dalam cahaya yang menerobos kaca jendela. Ia ada dalam butir hujan yang berdentum di atas atap gedung sekolah. Ia tak pernah absen muncul di billboard iklan setengah gombal. Cover buku teka teki silang. Tebak-tebakan renyah di radio. Setiap kata dalam lagu romansa. Untaian frasa kacangan novel remaja. Debur ombak di tepi pantai. Rembulan di tanggal belasan. Tanah kering pasca kemarau. Cokelat hijau dedaunan. Ia ada dalam hembus angin malam. Dalam lembut dekap senja di batas cakrawala. Di atas langit. Tanah. Udara.

Ia dan dia menyatu dalam debu kota yang tercampur asin hujan buatan.
Terbang bebas berpegangan tangan - hinggap di tembok batas jalan layang.
Membawa bisikan di tengah semesta yang tak hingga luasnya.
Hampir tiada.





Angin bertiup kencang. Jendela dibuka lebar-lebar.

Aku melesat pulang.

September 23, 2015

Jeruji Kaca

Kemudian di tengah bara api yang menyala di atas kota,
Angin menggonggongkan sajak pilu tentang amarah yang membeku
Ratusan besi karat menari beralaskan debu
Bertahtakan aku.

Lalu?

Matamu tertawa dalam gelap

Mengejek daun yang jatuh terseret hujan
Yang tak henti merintih sejak takbir berkumandang
Dalam senandung senyap.

Keparat.

Malam ke sembilan belas aku terjaga.
Di bawah mimpi bergelombang membentuk wajah wajah serupa
Hingga satu titik memecah semesta, dan
Alam bersorak menyambut satu nama.

Ya.
Berlarilah sekuat tenaga.

August 29, 2015

Siapa?

Kau membuatku ingin menulis.


Tentang seulas pucat sinar rembulan yang terlukis di wajahmu, menerbangkan butir hujan di sela dedaunan-lalu membelainya ke angkasa.

Tentang hijau laut yang menari di bola matamu, bergejolak lepas dalam hitam yang menyesapnya perlahan-membawaku tenggelam...

Tentang helai kapas dibalik ukiran kayu, berjejal menopang jutaan mimpi yang kau bawa dalam...

Tentang percik hangat di tengah badai salju yang kau hadirkan, genggam erat di tepi...

Tentang heningmu yang bernyanyi malu-malu, mendekap semesta hingga...

Tentang senja yang masih menyapa, menghidupkan kembali warna...

Tentang ratusan paragraf cerita tak bermakna...




Tentang rasa...





Tentang...















Kau membuatku ingin menulis

Tanpa kata.

August 23, 2015

.

Jika angin malam lalu yang dingin menusuk tak mampu menggigilkanku
Saat kutatap matamu yang dengan tajam menelisik ketiadaan,
Dan sepotong tawa lembut mengisi bingar dengan hening yang begitu cepat
Hingga bersemayam dalam angan sampai waktu tak bisa lagi kukejar,

Maka saat ini aku hanya bisa menatap langit langit
Berharap menemukan hitam di atas hamparan pasir dan rerumputan,
Mencari riak rembulan, atau siluet samar di kejauhan.
Berdoa untuk lupa.
Untuk rindu yang melebur dengan udara.
Semoga.

June 26, 2015

Jangan
Jangan berbaring di sampingku

Akan kutiup butir pelangi di pelupuk matamu
Hingga desau warna memenuhi ruang di antara kita
Dan setiap kata
Menggantung di udara
Berganti jingga

Jangan
Jangan duduk di sini

Gelombang nada akan menenggelamkanmu dalam sunyi
Saat akarku menggapai jemarimu
Lembut, seperti sinar bulan
Yang pucat keunguan
Di tengah terik siang kemarau

Jangan
Jangan menoleh

Kau akan melantunkan sungai yang tak pernah selesai
Dan kita akan menyelaminya lagi
Lagi
Lagi
Tak peduli seberapa
Dalam

Jangan
Jangan panggil namaku

Riak telaga akan menyesap putih tawamu
Dan kita mendesis biru
Di tengah ribuan kunang yang bersinar malu malu

Jangan,
Aku tak mau jatuh.

Kau akan melompat.





-Resah di malam buta, 
Angin pada serigala. 

April 10, 2015

Jarak

Jangkrik memenuhi hening kamar
Mengiringi degup yang tak juga melambat
Dan suara-suara dalam kepala yang tidak pernah mau berdamai

Kau duduk di luar
Dengan gitar, sebatang rokok, dan
Sebait cinta dalam lagu
Yang kau bilang terlalu pilu.

Sejujurnya,

Aku ingin, kau
Mendekap gigil yang bersemayam di pojok hati
Ngilu menggerogoti tawa larut malam yang sudah lama mati

Sudahlah.

Bulan terbaring pucat
Di atas hamparan gugusan bintang yang
Berbentuk seperti botol anggur
Hitam gemerlap.
Indah,
Dan membutakan.

Kusebut namamu.
Kau terdiam.

Angin mengecup hiasan bambu depan rumah
Yang bergemerincing seakan sedang tertawa
Atas dosa yang sedang kita renungkan.

Dunia sudah jadi gila.
Ataukah aku yang terlalu banyak bicara?

Sepuluh ribu kilometer kemudian,
Kau memetik halus setiap senar,
Tersenyum dibawah temaram lampu
Yang menyentuh wajahmu mesra

Sambil menatap laut di kejauhan

Berharap setiap nada
Sampai

March 23, 2015

Hai.

Disini gelap.
Jalanan seakan-akan merayap mendekat dengan cepat, merangkul sunyi yang berpendar malam ini.
Kau tahu rasanya, ketika radio tidak bisa melenyapkan sepi?
Setiap nada seperti membentuk sebilah sendu, dalam sekejap mengisi dadamu sampai sesak.
Tak tahu kenapa.

Yang kau tahu, kau ingin cepat pulang.
Atau sebisa mungkin tidak berada di tengah kelabu yang tak ada habisnya,
Sekaligus ingin tenggelam di telan aspal yang terlihat begitu hangat.

Yang kau tahu,
Ranting pepohonan membentuk siluet
Ribuan garis di atas kanvas hitam
Bergenggam erat, meski saling tergores

Yang kau tahu,
Sepotong sapa di ujung jalan itu
Benar-benar kau rindukan.
Meski mungkin tidak akan lagi kau temukan.

Dan yang kau tahu,
Menara di jalan layang tidak lagi bersinar
Kemelut ini membuaimu terus melaju kencang
Lagi,
Lagi,
Lagi...





Yang kau tahu,
Ruangan itu begitu cerah.
Apakah ini rumah? Pantai?

Dan kemudian ia datang.
Menggenggam tanganmu,
Tersenyum lebar.
“Dari mana saja?”

Dan kau pun tahu,
Kini, kau telah pulang.


March 10, 2015

Tuhan,

Siang tadi aku sengaja beli domino’s fantastic four dengan topping american classic cheese burger. Dua kotak kecil aku makan sendiri, satu untuk temanku, dan satu lagi kusisakan untuk siapapun yang berpapasan denganku, dan, beruntung.

Satu kotak itu kubawa-bawa sambil berjalan ringan ke arah masjid salman. Tadinya akan kuberi pada tim tukang parkir, tapi sepertinya terlalu kecil. Aku kembali melenggang menyeberang jalan – berharap berpapasan, dengan, entahlah – mungkin orang yang kukenal, atau, wajah asing yang lumayan tampan.

Kau tahu, Tuhan,

Di seberang jalan itu ada nenek-nenek yang sedang duduk di trotoar. Digelarnya terpal kecil untuk menjajakan beberapa jajanan seperti beng-beng, richeese wafer, dan lain sebagainya. Harganya memang mahal, tapi untuk seorang nenek berjualan seperti itu, kurasa memang wajar. 

Aku melewatinya.

Beberapa langkah kemudian, kakiku terhenti. Lalu aku berbalik mendekati nenek itu, dan bertanya.
“Bu, udah makan?”
Dia tertawa, bingung. 
“Mau ini bu?” Kusodorkan kotak kecil itu. 
“Itu apa?” 
“Pizza bu. Ini, buat ibu aja ya.”
 Lalu dia menerima dengan sedikit kikuk sambil menawarkan jajanannya. 
“Ini neng, mau bawa yang mana?” aku menggeleng dan pergi. 

Tuhan, muka nenek itu berseri seri. Senang sekali. 

Bahagia rasanya, melihat nenek itu. Menuju tempat wudhu aku bermonolog dalam hati. Harusnya, seorang ibu berusia lanjut sudah saatnya tinggal duduk di rumah, menemani cucu yang sudah mulai remaja sambil menunggu anaknya pulang. Bukankah ingin setiap hari melihatnya tersenyum senang seperti itu?

Lalu, Tuhan,

Tiba-tiba saja, rasanya, seperti ada yang tertoreh. 

Aku teringat Nenek.

Yang memiliki senyum paling khas – cengiran tulus saat dibawakan apa saja setiap pulang ke rumah. Yang akan menggenggam (padahal cuma camilan) erat-erat di depan dadanya sambil menyeringai lebar sampai matanya hampir tenggelam, lalu bilang, “Asiiiik! Nuhun eeeuy” dan memakannya pelan-pelan. Menikmati setiap gigitan.

Nenek yang jika dibawakan es krim, sate, atau durian, akan duduk di atas kasur sambil ucang angge dan cekikikan – dengan binar seperti di mata anak bayi yang melihat wajah kedua orang tuanya. Lalu melambaikan tangan agar aku duduk di sampingnya. Makan sambil tertawa sampai mulut belepotan.

Tuhan, aku ingin membawakan banyak kue untuk nenek.

Setiap aku duduk di depan tv, sebenarnya aku masih berharap nenek membuka pintu kamarnya sambil celingak-celinguk (dan jika ada bapak) cengengesan, lalu duduk di kursi sebelah kanan. Berjuta kali kita mengajak nenek duduk di tengah, tapi lebih rela leher pegal pegal ketimbang sungkan. Begitu pun, dia tetap menonton sambil tersenyum – meskipun sudah agak tidak kedengaran.

Tuhan, aku ingin membelikannya batere untuk alat dengar.



Dan semua ini datang seperti gelombang ombak melahap habis istana pasir yang terlihat padat dan kokoh, menyapunya habis tak bersisa.

Kita tidak bisa membahagiakan mereka yang sudah tiada.



Aku sesenggukan, padahal sudah sebisa mungkin ditahan. Lalu sok tenang padahal mata seperti tertarik ke belakang.

Tuhan, 

Aku belum pernah merasa begitu kehilangan.

Terutama kesempatan untuk melihat senyum tulusnya.






Kalau bisa, aku ingin membawakan semua kue, susu, eskrim, durian, sate, mesin jahit, kain, dan semua hal favorit nenek yang ada di dunia ini untuknya. 






Tuhan,

Tolong bahagiakan Nenek. 



Suatu hari nanti, aku akan melihatnya lagi,

Dan ikut tersenyum.