September 23, 2015
Jeruji Kaca
Angin menggonggongkan sajak pilu tentang amarah yang membeku
Ratusan besi karat menari beralaskan debu
Bertahtakan aku.
Lalu?
Matamu tertawa dalam gelap
Mengejek daun yang jatuh terseret hujan
Yang tak henti merintih sejak takbir berkumandang
Dalam senandung senyap.
Keparat.
Malam ke sembilan belas aku terjaga.
Di bawah mimpi bergelombang membentuk wajah wajah serupa
Hingga satu titik memecah semesta, dan
Alam bersorak menyambut satu nama.
Ya.
Berlarilah sekuat tenaga.
August 29, 2015
Siapa?
August 23, 2015
.
Saat kutatap matamu yang dengan tajam menelisik ketiadaan,
Dan sepotong tawa lembut mengisi bingar dengan hening yang begitu cepat
Hingga bersemayam dalam angan sampai waktu tak bisa lagi kukejar,
Maka saat ini aku hanya bisa menatap langit langit
Berharap menemukan hitam di atas hamparan pasir dan rerumputan,
Mencari riak rembulan, atau siluet samar di kejauhan.
Berdoa untuk lupa.
Untuk rindu yang melebur dengan udara.
Semoga.
June 26, 2015
Jangan berbaring di sampingku
Akan kutiup butir pelangi di pelupuk matamu
Hingga desau warna memenuhi ruang di antara kita
Dan setiap kata
Menggantung di udara
Berganti jingga
Jangan
Jangan duduk di sini
Gelombang nada akan menenggelamkanmu dalam sunyi
Saat akarku menggapai jemarimu
Lembut, seperti sinar bulan
Yang pucat keunguan
Di tengah terik siang kemarau
Jangan
Jangan menoleh
Kau akan melantunkan sungai yang tak pernah selesai
Dan kita akan menyelaminya lagi
Lagi
Lagi
Tak peduli seberapa
Dalam
Jangan
Jangan panggil namaku
Riak telaga akan menyesap putih tawamu
Dan kita mendesis biru
Di tengah ribuan kunang yang bersinar malu malu
Jangan,
Aku tak mau jatuh.
Kau akan melompat.
-Resah di malam buta,
Angin pada serigala.
April 10, 2015
Jarak
Jangkrik memenuhi hening kamar
Mengiringi degup yang tak juga melambat
Dan suara-suara dalam kepala yang tidak pernah mau berdamai
Kau duduk di luar
Dengan gitar, sebatang rokok, dan
Sebait cinta dalam lagu
Yang kau bilang terlalu pilu.
Sejujurnya,
Aku ingin, kau
Mendekap gigil yang bersemayam di pojok hati
Ngilu menggerogoti tawa larut malam yang sudah lama mati
Sudahlah.
Bulan terbaring pucat
Di atas hamparan gugusan bintang yang
Berbentuk seperti botol anggur
Hitam gemerlap.
Indah,
Dan membutakan.
Kusebut namamu.
Kau terdiam.
Angin mengecup hiasan bambu depan rumah
Yang bergemerincing seakan sedang tertawa
Atas dosa yang sedang kita renungkan.
Dunia sudah jadi gila.
Ataukah aku yang terlalu banyak bicara?
Sepuluh ribu kilometer kemudian,
Kau memetik halus setiap senar,
Tersenyum dibawah temaram lampu
Yang menyentuh wajahmu mesra
Sambil menatap laut di kejauhan
Berharap setiap nada
Sampai
March 31, 2015
March 23, 2015
Hai.
March 10, 2015
✉
February 12, 2015
Gerimis di Jalanan
February 3, 2015
A little bit too often
Buat apa kata
Kalau dengan bertatapan, kita
Sudah sama sama mengerti
Cukup sampai disini.
January 28, 2015
-
Kita hanyalah sebuah keterbinasaan yang tertunda.
Mencari bentuk, wajah,
Rasa,
Makna
Mendamba sosok berbayang diantara ramai belantara
Atau, sekedar berburu mangsa.