June 21, 2016

Mungkin.

Bagaimana jika
Setubuh pilu itu
Tak lain
Hanyalah
Angan yang kau tempa
Dalam buai angin senja
Hingga
Menjadi belati berukir puisi

Menembus
Jantungmu.

Serahkan padaku
Akan hilang perih
Hatimu dalam genggaman
Tajam taringku
Yang tulus.


(Cintalah bukan karena aku)

June 14, 2016

Sembilan takar tepung di pelukan rindu
Bertalu talu dengan usap di sebaris bahu
Kala bait berlapis renda menguntai di tepian jendela
Berkancing bisik senandung tawa
Dan pintal hangat sepiring caya
Nek,
Bagaimana di sana?

June 13, 2016

Bingar kota gerlap di kejauhan
Seperti gugusan bintang
Yang tengah bercerita
Tentang cintaNya yang tak berbalas

May 31, 2016

Sebilah kata menari di balik bibir manismu
Memenggal rasa yang terseok memanjat tebing jantungku
Bermimpi puncak
Dan angin malam yang memeluk pekat

Sementara hangat nada terus terngiang
Hembusan yang sama,
Berulang-ulang,
Sampai mati tercekik

Apa mauku, katamu?

Hamparan rumput menghijau bermandikan kuning
Mentari yang membakar
Habis, bunga-bunga di pekarangan
Lenganmu hitam bermandikan amarah
Api

Apa maumu, kataku!

Gelombang pendar berlari di sepanjang pesisir
Membelah langit dan berjuta angannya
Seperti jutaan jiwa bersemayam di dalamnya
Terkikis satu persatu bersama
Badai yang menghempas sang nelayan tua
Dan air mata
Keluarga yang merindukannya

Lalu, bagaimana?




"Maumu Bepergian, Mauku Tidur Seharian"
Bosan libur, Eduplex, Bandung

May 28, 2016

Kita adalah sebuah kisah singkat

Dalam ruang kecil di balik duka
Kau terjemahkan aku
Peta yang terlukis di setiap denyut nadiku

Tatapmu tajam menghujam tubuhku
Menelisik masuk ke dalam aliran darahku
Menggenapkan lagu yang sayup terukir di dinding jantungku

Kita adalah sebuah kisah singkat

Sinarmu berpendar di balik
Benteng kokoh yang menjulang tinggi

Yang lalu seperti
Mengepungku dalam naungan
Peluk

Kita adalah sebuah kisah singkat

Berputar,
Memutar seperti bumi dan bulan yang
Tak lelahnya berkejaran
Merekam cerita dalam
Setiap sudut yang terbentang

Namun bagimu, aku
Hanyalah ribuan gelombang data
Yang bersuara tanpa bahasa

Kita adalah sebuah kisah singkat

Kau
Selamatkan aku.





Wedyata Larasartika
Bandung, 23 Mei 2016
Terinspirasi pemodelan cara kerja CT Scan
(Tugas Individu Mata Kuliah Pemodelan Matematika) 

January 25, 2016

Dan semoga,
Sakit yang kita rasakan menoreh rupa
Akan maaf yang sayap kan rasa
Tikam yang merah segar bertahtakan kata
Dan tabah, yang tumbuh di antara kedua kaki kita.

December 27, 2015

Kaca

Di balik sepenggal kicau pipit pagi ini
Kau turun bagai kabut
Menjejak setiap inci kulit dengan tamak
Hingga beku

Tapi aku tak pernah benci dingin

Di antara terik aspal jalur pantura
Kau kepul asap kendaraan, yang senantiasa
Berkorban untuk sejuk di balik jendela
Perlahan mendekap
Melekat di sepanjang dinding dada
Tak bisa hilang

Tapi aku tak keberatan tercekik

Di puncak kemelut yang sibuk mencambuk
Kau semilir yang membalut rasa
Menyerap segala perih
Dengan kecup bilur, dan
Manis sapa dalam sedan

Tapi aku tak perlu takut nestapa

Di bawah kanopi bintang malam ini
Kau samudera yang melantunkan puisi
Rindu di muka gelombang tinggi
Dan gemerlap hitam yang
Mendekap nelayan di permukaan
Lalu menariknya sampai ke dasar
Tiada bersisa

Tapi saat ini, aku tak takut mati

Maka jahit jemariku
Untuk kau jadikan perisai
Yang memelukmu dari karu prahara

Dan segalanya

Dan saat musim berganti gugur
Esa berganda rupa
Pun bumi hujan melihat kita,

Akan duduk saja di bangku
Seiring terang padam satu persatu;
Aku tak apa. 

December 15, 2015

Sekian

Aku selalu terpesona oleh kucing.
Tidak, kau tidak salah baca.
Kucing. Ya, kucing.

Yang hanya tidur dan bermain
Dan makan dan main
Dan tidur dan main
Dan bodoh dan main
Dan main....
Tidak perlu banyak usaha,
Tapi sudah lucu.

Lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh lampu-lampu jalan.

Barisan garis cahaya bernyanyi menemani kota yang sepi
Kalah jauh dibanding ribuan bintang di atas sana,
Tapi, tak apa.
Karena di balik kuning jingga di tepi jalan itu
Tersimpan berjuta kenangan dan harapan
Setiap jiwa yang melintasinya.

Lebih, lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh langit senja.

Lembayung yang berdansa perlahan,
Yang menggumamkan nada berlapis nostalgia
Seakan waktu berdetak lambat
Tertegun oleh hangat yang menyelimuti tubuh kita
Dalam damai

Lebih, lebih, lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh rintik hujan.

Derasnya sapa turun menggema
Menepis nyala merah yang menghantui dunia
Meluapkan hitam dalam dada, yang
Menyeruak serupa butir keringat hingga
Bersatu dengan udara yang dingin dan basah
Dan sendu

Lebih, lebih, lebih, lebih dari itu,
Aku selalu terpesona oleh laut.

Kilau di atas gelombang yang naik, turun,
Memeluk hati dalam gejolak rasa
Seperti nelayan yang tak kuasa menjauhi badai
Hanya ingin memeluknya
Lalu tenggelam.







Tapi oh, ternyata







Lebih, lebih, lebih, lebih, lebih dari itu,

Aku selalu terpesona olehmu.

November 17, 2015

Sejangkar berlabuh di dadaku.

Kemudian asap bertengkar dalam sekoci
Mengalahkan laut yang menggelinjang di bawah terik pertiwi.

Berkelebat camar dalam anganku
Mengoyak daging nahkoda di ujung batas itu.

Adakah malam puas melahap fajar dalam senggama,
Ataukah nestapa?

Setan!
Selamat datang.

October 19, 2015

Flare

Kita adalah anjing yang melayang di atas bukit
Mengaduh setiap kali kabut turun,
Meraung agar mentari menjejak petir di kaki angin.

Kusentuh wajahmu
Kau terkam aku.

(Belum rampung. Terlanjur tidur)

September 28, 2015

Lampu Jalan

Angin bertiup kencang.

Saat hujan turun nanti, ia akan menghampiri dia yang sedang tengadah sambil tersenyum riang. Lalu mengajak dia berlari, melompat, menari. Menantang jutaan rintik yang menyapa tanah dalam deras. Habis kuyup, ia berikan segelas teh hangat agar dia tidak kedinginan. Rinai tidak pernah semerdu itu.

Ia akan menyematkan rangkaian melati di luar jendela. Biar sore nanti, dia pulang dan terpana - lalu senyum sendiri seperti orang gila.

Kemudian ia menitipkan secarik surat pada orang tak dikenal. Isinya hanya coretan. Atau mungkin tebak-tebakan. Atau potongan kalimat iklan.

Aneh. Tidak lucu, tapi berhasil bikin dia tertawa.

Ia tidak akan banyak memuja. Begitupun memaksakan rayuan gombal yang didapat dari majalah di warung sebelah. Ia akan dengan santai mengutip puisi lama buatan dia, seakan sudah hapal kata demi kata. Atau menempelkan potongan puisi di sela lembar buku yang sedang dia baca. Dengan ringan meniti rasa.

Langit dan bumi akan bosan dengan tingkah ia yang tak ada habisnya. Pun semesta.

Tapi tidak untuk dia.

Seiring detik yang berderap perlahan, ia hadir dalam cahaya yang menerobos kaca jendela. Ia ada dalam butir hujan yang berdentum di atas atap gedung sekolah. Ia tak pernah absen muncul di billboard iklan setengah gombal. Cover buku teka teki silang. Tebak-tebakan renyah di radio. Setiap kata dalam lagu romansa. Untaian frasa kacangan novel remaja. Debur ombak di tepi pantai. Rembulan di tanggal belasan. Tanah kering pasca kemarau. Cokelat hijau dedaunan. Ia ada dalam hembus angin malam. Dalam lembut dekap senja di batas cakrawala. Di atas langit. Tanah. Udara.

Ia dan dia menyatu dalam debu kota yang tercampur asin hujan buatan.
Terbang bebas berpegangan tangan - hinggap di tembok batas jalan layang.
Membawa bisikan di tengah semesta yang tak hingga luasnya.
Hampir tiada.





Angin bertiup kencang. Jendela dibuka lebar-lebar.

Aku melesat pulang.